Saya Beli “13 GB”, yang Datang 7,5 GB: Catatan Seorang Konsumen
Malam itu, 22 Juni 2026, saya melakukan sesuatu yang barangkali juga Anda lakukan ratusan kali dalam setahun tanpa pernah benar-benar memikirkannya. Saya membeli paket internet.
Nomor saya, 082241419520, sudah hampir kehabisan kuota. Saya buka aplikasi Livin by Mandiri, masuk ke menu pembelian paket data Telkomsel, dan di sana, di antara deretan pilihan, satu paket menarik perhatian saya: “Internet OMG! hingga 13 GB”. Di bawahnya tertulis keterangan yang terasa cukup meyakinkan, “Kuota hingga 13 GB + 2 GB OMG!, berlaku 30 hari”. Harganya Rp 75.000.
Tiga belas giga, pikir saya. Cukup untuk sebulan. Saya tekan beli.
Pukul 19.13 transaksi berhasil. Total yang terpotong dari rekening saya Rp 77.000, sudah termasuk biaya layanan dua ribu rupiah. Struk digitalnya rapi: nama saya tercantum sebagai sumber rekening, ada nomor referensi, ada nomor seri. Semua terasa beres. Saya menutup aplikasi dengan tenang, seperti orang yang baru saja menyelesaikan satu urusan kecil dalam hidup.
Empat menit kemudian, rasa tenang itu menguap.
Saya membuka aplikasi MyTelkomsel sekadar untuk memastikan kuota sudah masuk. Di sanalah saya melihat angka yang tidak saya harapkan. Bukan 13 GB. Bukan pula 15 GB sebagaimana penjumlahan “13 GB + 2 GB” yang tertera saat saya membeli. Yang masuk hanya 7,5 GB. Rinciannya: 5,5 GB kuota internet, ditambah 2 GB kuota OMG!.
Saya membacanya berulang kali, seperti orang yang berharap angka di layar akan berubah kalau ditatap cukup lama. Tentu saja tidak. Kuota utama yang saya terima kurang dari separuh angka yang ditampilkan kepada saya beberapa menit sebelumnya.
Saya ingin jujur sejak awal. Saya tahu kata “hingga” itu ada di sana. Saya tahu operator seluler kerap memakai kata itu untuk menandai bahwa besar kuota bergantung pada zona atau wilayah tertentu. Saya bukan konsumen yang naif. Tetapi justru di titik itulah saya merasa ada yang keliru.
Kalau besar kuota memang ditentukan oleh zona, mengapa informasi itu tidak muncul saat saya membeli? Yang dipampang besar-besar adalah angka 13 GB. Kata “hingga” diselipkan dengan ukuran yang nyaris tak menuntut perhatian. Konsumen baru tahu berapa kuota yang sesungguhnya ia dapat setelah uangnya berpindah, setelah transaksi tak bisa lagi dibatalkan. Urutannya terbalik. Saya membayar lebih dulu untuk sebuah angka, baru kemudian diberi tahu bahwa angka itu tidak berlaku untuk saya.
Di sinilah cerita saya berhenti menjadi sekadar keluhan pribadi, dan mulai menyentuh sesuatu yang lebih besar.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menempatkan hak atas informasi sebagai salah satu hak paling mendasar. Pasal 4 huruf c menyatakan konsumen berhak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa. Tiga kata itu, benar, jelas, jujur, bukan hiasan. Mereka adalah ukuran.
Informasi “hingga 13 GB” mungkin secara teknis benar, dalam arti ada skenario di mana seseorang di zona tertentu memang mendapat 13 GB. Tetapi apakah ia jelas? Apakah ia jujur, ketika angka terbesar yang ditonjolkan ternyata bukan angka yang akan diterima sebagian besar pembeli? Pasal 9 dan Pasal 10 undang-undang yang sama bahkan secara tegas melarang pelaku usaha menawarkan atau mengiklankan barang dan jasa secara tidak benar atau seolah-olah menjanjikan sesuatu yang sebenarnya belum pasti.
Saya tidak sedang menuduh siapa pun melanggar hukum. Itu bukan kapasitas saya, dan menetapkan pelanggaran adalah wewenang pihak yang berwenang, bukan seorang pembeli pulsa di malam hari. Yang saya lakukan hanyalah meletakkan pengalaman saya berdampingan dengan teks undang-undang, lalu bertanya: apakah keduanya sejalan?
Saya menulis ini bukan karena selisih rupiahnya. Tujuh puluh lima ribu bukan jumlah yang akan mengubah hidup saya, dan saya curiga ia juga bukan jumlah yang akan diperjuangkan kebanyakan orang. Justru karena itulah praktik semacam ini bisa berlangsung lama. Kerugian per orang terlalu kecil untuk diributkan, tetapi dikalikan jutaan transaksi, ia menjadi sangat besar. Diam, dalam konteks ini, adalah cara kita memberi izin.
Maka saya memilih tidak diam.
Saya meminta Telkomsel memberi klarifikasi atas selisih kuota ini, dan menjelaskan mengapa angka yang ditampilkan saat pembelian begitu jauh dari kuota yang benar-benar masuk. Lebih dari itu, saya berharap ada perbaikan cara penyajian informasi, agar kata “hingga” tidak lagi menjadi pintu belakang yang mengaburkan janji di etalase depan. Bukti pembelian dan tangkapan layar rincian paket saya simpan dengan baik, dan siap saya tunjukkan kapan pun diperlukan.
Saya menceritakan ini karena saya percaya pada satu hal sederhana. Hak konsumen tidak gugur hanya karena nilainya kecil. Ia tetaplah hak. Dan hak, sekecil apa pun, layak diperjuangkan.
Update: Pihak Telkomsel telah melakukan klarifikasi pada 24 Juni 2026 dengan melakukan dua kali panggilan telepon. Mereka juga sudah mengembalikan ‘kuota yang hilang’ dengan menambahkan jumlah kuota internet saya.
