Mencekam! 50 Pria Berambut Cepak Datangi Polda Metro Jaya Pasca-Penggeledahan Rumah Jampidsus
Sebanyak 50 pria berambut cepak yang diduga kuat sebagai anggota TNI mendatangi dan memarkirkan delapan mobil pribadi di depan gedung Ditreskrimsus Polda Metro Jaya sejak pukul 03.30 subuh.
JAKARTA, Nalarhukum.id — Ketegangan antar-aparat penegak hukum pasca-operasi senyap kepolisian memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan. Markas Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) dilaporkan “diserbu” oleh sekitar 50 orang berambut cepak yang diduga kuat merupakan anggota TNI pada Kamis (9/7/2026) pagi.
Dikutip dari laporan Suara.com, puluhan pria tersebut mendatangi gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) sejak pukul 03.30 subuh dengan menggunakan delapan unit mobil pribadi non-dinas.
Beberapa sumber di internal kepolisian mengungkapkan bahwa pergerakan massa nirmiliter ini bertujuan untuk menjemput paksa tahanan sipil atau saksi kunci yang sedang menjalani pemeriksaan maraton terkait mega korupsi yang sedang diusut polda bersama Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri.
Merespons pergerakan eksternal yang terindikasi mengintervensi jalannya hukum ini, otoritas kepolisian langsung mengeluarkan peringatan keras. Polda Metro Jaya menegaskan tidak akan menoleransi segala bentuk tindakan yang mengarah pada perintangan penyidikan (obstruction of justice).
“Siapa pun yang mencoba menghalangi penyelidikan kami, bisa diproses hukum,” tegas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto.
Barikade Brimob di Rumah Mewah Sentul City
Gesekan terbuka di markas polda ini merupakan rentetan langsung dari operasi penggeledahan skala besar yang berlangsung hingga Kamis dini hari. Tim gabungan Kortastipidkor Polri dan Brimob bersenjata laras panjang dilaporkan menggeledah sebuah rumah mewah di Perumahan Golf Hijau, Sentul City, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Rumah elite bercat putih tersebut diduga kuat merupakan milik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.
Suasana di sekitar lokasi penggeledahan Sentul digambarkan sangat mencekam dengan penjagaan super ketat dari personel berseragam taktis guna memastikan penyisiran alat bukti elektronik dan dokumen transaksi berjalan tanpa hambatan.
Langkah agresif ini merupakan pengembangan langsung dari operasi sebelumnya di Jakarta, di mana polisi berhasil membongkar brankas rahasia di balik lemari Cafe de’CLAN Signature dan Koin Money Changer di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, yang berisi tumpukan uang asing bernilai fantastis.
Tiga Klaster Korupsi Kakap Penyulut Sengketa
Berdasarkan konstruksi perkara yang dirilis kepolisian, tim gabungan saat ini tengah membedah tiga klaster kasus korupsi dan pencucian uang berskala masif yang saling bertautan. Ketiga perkara tersebut adalah:
- Skandal Energi PT PLN: Dugaan korupsi pengadaan batu bara yang memicu krisis pasokan energi hingga menyebabkan mati listrik massal (blackout) di berbagai wilayah Indonesia.
- Korupsi PT Asabri (Persero): Pengembangan baru atas kasus rasuah pengelolaan keuangan sisa periode 2020–2025 yang diduga melibatkan oknum penyelenggara negara.
- Pencucian Uang PT CBS: Indikasi praktik TPPU dalam proses skema penyelesaian utang korporasi kepada PT KNI.
Penyidik mensinyalir terdapat benang merah yang kuat berupa aliran dana haram dalam jumlah masif dari ketiga klaster kasus tersebut kepada oknum pejabat tinggi kejaksaan.
Aliran dana gelap itu diduga digunakan sebagai instrumen suap untuk mengamankan perkara komersial atau memperlancar transaksi ilegal yang merugikan keuangan negara. Penemuan brankas rahasia di money changer Cipete kini tengah dibedah melalui kacamata pencucian uang untuk melacak pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dari gurita korupsi ini.
